katalog kartu
December 28th, 2011KATALOG PERPUSTAKAAN
(Masih Perlukah?)
1. Pengantar
Perpustakaan memiliki 7 (tujuh) fungsi antara laian: fungsi edukasi, fungsi informasi, fungsi riset, fungsi rekreasi, fungsi publikasi, fungsi deposit, dan fungsi interpretasi. Fungsi edukasi, perpustakaan merupakan sumber belajar para pemustaka, oleh karena itu koleksi yang disediakan adalah koleksi yang mendukung pencapaian tujuan pembelajaran, pengorganisasian bahan pembelajaran dalam rangka untuk mewujudkan fungsi perpustakaan sebagai tempat belajar sepanjang hayat. Fungsi informasi, perpustakaan merupakan sumber informasi yang mudah diakses oleh pencari dan pengguna informasi. Mudah diakses meliputi tempat (gedung/ruang) perpustakaan yang strategis, rak buku yang tidak terlalu tinggi, dan dengan layanan terbuka (open access). Fungsi rekreasi, perpustakaan harus menyediakan koleksi rekreatif yang bermakna untuk membangun dan mengembangkan kreativitas , minat dan daya inovasi pemustaka. Fungsi publikasi, perpustakaan selayaknya juga membantu melakukan publikasi karya yang dihasilkan oleh warga masyarakat yang telah diterbitkan oleh badan penerbit. Fungsi deposit, perpustakaan menjadi pusat deposit untuk seluruh karya yang dihasilkan oleh warga masyarakat sebagai bukti atas kekayaan intelektual. Fungsi interpretasi, perpustakaan sudah seharusnya melakukan kajian dan memberikan nilai tambah terhadap sumber-sumber informasi yang dimiliki untuk membantu pemustaka dalam melakukan dharmanya.
Sistem temu kembali informasi (STKI) di perpustakaan merupakan unsur yang sangat penting. Tanpa STKI, pemustaka akan mengalami kesulitan mengakses sumber daya informasi yang tersedia di perpustakaan. Sebaliknya perpustakaan akan mengalami kesulitan untuk mengkomunikasikan sumber daya informasi yang tersedia kepada pemustaka, apabila STKI tidak tersedia. Salah satunya alat STKI adalah katalog perpustakaan. Melalui katalog perpustakaan pemustaka dapat melakukan akses secara mudah dan perpustakaan dapat menkomunikasikan koleksi yang dimilikinya dengan mudah pula.
Katalog perpustakaan dari waktu ke waktu selalu mengalami inovasi dan perubahan. Inovasi ini dimaksudkan untuk memberi kemudahan bagi para pemustaka dalam menemukan informasi yang diperlukan secara cepat dan akurat. Tulisan ini akan mencoba menguraikan pengertian dan fungsi dari katalog perpustakaan. Diuraikan juga perbandingan keunggulan dan kelemahan diantara katalog perpustakaan yang manual dengan katalog terpasang (online catalog). Pertanyaannya adalah, masih perlukah katalog perpustakaan di era maya sekarang ini?
2. Pengertian Katalog Perpustakaan
Perpustakaan memerlukan katalog adalah untuk menunjukkan ketersediaan koleksi yang dimilikinya. Untuk itu perpustakaan memerlukan suatu daftar yang berisikan informasi bibliografis dari koleksi yang dimilkinya. Daftar tersebut biasanya disebut katalog perpustakaan. Hunter (dalam Hasugian, 2009) menyatakan bahwa katalog adalah suatu daaftar dari, dan indeks ke, suatu koleksi buku dana bahan lainnya. Katalog memungkinkan pengguna untuk menemukan suatu bahan pustaka yang tersedia dalam koleksi perpustakaan tertentu. Katalog juga memungkinkan pengguna untuk mengetahui di mana suatu bahan pustaka dapat ditemukan. Dengan demikian, katalog perpustakaan adalah suatu sarana untuk menemukembalikan bahan pustaka dari koleksi suatu perpustakaan.
Menurut Gates (dalam Hasugian, 2009) katalog perpustakaan adalah suatu daftar yang sistematis dari buku dan bahan-bahan lain dalam suatu perpustakaan ,dengan informasi deskriptif mengenai pengarang, judul, penerbit, tahun terbit, bentuk fisik, subjek, ciri khas bahan dan tempatnya.
Dari uraian tersebut dapat disimpulkan bahwa katalog perpustakaan adalah suatu daftar yang mencantumkan nama pengarang, judul, impresum, kolasi, subjek, dan cirri khas bahan yang disusun berdasarkan sistem tertentu yang menunjukkan informasi tentang apa yang dimiliki oleh perpustakaan atau sebagai bukti kekayaan yang dimilki perpustakaan, untuk disajikan kepada pemustaka sebagai alat menemukan informasi yang dicarinya secara cepat dan akurat.
3. Tujuan dan Fungsi Katalog Perpustakaan
Menurut Sulistyo-Basuki (1991) tujuan dari catalog adalah :
a. Menunjukkan buku yang dimiliki perpustakaan
b. Memungkinkan seseorang menemukan sebuah buku yang diketahui berdasarkan pengarang, judul atau subjeknya.
c. Membantu dalam pemilihan buku.
Tujuan katalog perpustakaan adalah untuk menunjukkan dokumen (tercetak ataupun terekam) yang dimiliki oleh perpustakaan, sehingga dapat diketahui seberapa banyak dan lengkapkah kekayaan yang dipunyai oleh perpustakaan. Katalog perpustakaan berfungsi sebagai suatu sistem komunikasi yang dapat menunjukkan kekayaan koleksi yang dimiliki perpustakaan. Artinya, suatu perpustakaan melalui katalognya mengkomunikasikan kepada pemustaka, koleksi apa saja yang dimilikinya, seberapa banyak koleksi tersebut dan sebagainya. Katalog perpustakaan di satu sisi dapat berfungsi sebagai sistem komunikasi, dan di sisi lain berfungsi sebagai daftar inventaris dari seluruh bahan pustaka yang dipunyainya.
Memungkinkan seseorang untuk menemukan informasi berdasarkan pengarang, judul atau subjeknya. Pengertian ini menekankan fungsi catalog perpustakaan sebagai sarana atau alat Bantu dalam temu balik informasi (information retrieval) di suatu perpustakaan. Sehingga pemustaka dapat melakukan akses melalui tigas ancangan tersebut, jika seseorang hanya mengetahui pengarang saja tetpai tidak tahu judulnya maka pemustaka dapat mengakses lewat pengarang dan atau sebaliknya. Seseorang tidak tahu tentang nama pengarang dan judul dokumen, maka dia dapat mengakses lewat subjeknya (pokok bahasan/topiknya).
Katalog perpustakaan juga dapat membantu dalam pemilihan buku bagi pustakawan pada saat melakukan pengadaan bahan pustaka, untuk menghindari duplikasi. Pemilihan juga dapat berdasarkan edisinya atau berdasarkan karakternya atau topiknya.
Berdasarkan uraian di atas, dapat disimpulkan bahwa fungsi catalog perpustakaan adalah sebagai sarana temu kembali informasi, sistem komunikasi, dan sebagai daftar inventaris koleksi di suatu perpustakaan. Katalog perpustakaan berfungsi sebagai inventaris dokumen sebuah perpustakaan sekaligus berfungsi sebagai sarana temu balik (Sulistyo-Basuki, 1991).
4. Bentuk Katalog Perpustakaan
Bentuk katalog yang digunakan di perpustakaan mengalami perkembangan dari masa ke masa. Perkembangan katalog perpustakaan nampak dari perubahan bentuk fisiknya. Sebelum katalog terpasang (online) muncul, telah dikenal berbagai bentuk katalog perpustakaan, dan bentuk yang paling umum digunakan ialah katalog kartu Horgan (dalam Hasugian, 2009). Katalog perpustakaan yang ada pada saat ini terdiri dari berbagai bentuk fisik antara lain, katalog berbentuk buku (book catalog), katalog berbentuk kartu (card catalog), katalog berbentuk mikro (microform catalog), katalog komputer terpasang (online komputer catalog) Taylor (dalam Hasugian, 2009).
Katalog berbentuk buku telah lama digunakan di perpustakaan. Katalog ini sering disebut catalog tercetak (printed catalog). Keuntungannya dapat dicetak sesuai dengan kebutuhan utamanya di era komputer ini sangat memungkinkan untuk dicetak seberapa yang dibutuhkan, bentuknya rapih, hemat tempat penyimpanan, mudah dibawa kemana-kemana, mudah disebarluaskan kepada perpustakaan lain. Keuntungan lain entri pada katalog berbentuk buku dapat ditemukan dengan cepat, mudah menyimpannya. Kelemahannya ialah setiap kali perpustakaan memperoleh buku baru maka katalog buku sudah ketinggalan zaman karena setiap kali perpustakaan menambah buku baru, berarti katalog sebelumnya harus diperbaharui kembali. Dengan demikian katalog berbentuk buku kurang fleksibel. Cara ini dapat diatasi dengan menerbitkan katalog tambahan (suplemen), namun cara ini tetap tidak efektif. Biaya pembuatan katalog berbentuk buku cenderung mahal, karena bentuk dan jumlah cantumannya sering berubah. Karena biayanya mahal, cepat usang, merepotkan bagi pustakawan, maka katalog berbentuk buku ini tidak dipakai lagi oleh perpustakaan dan kemudian secara bertahap beralih ke bentuk katalog yang lain, terutama katalog kartu.
Katalog kartu adalah bentuk katalog perpustakaan yang semua deskripsi bibliografisnya dicatat pada kartu berukuran 7.5 x 12.5 cm. Katalog kartu disusun secara sistematis pada laci katalog. Kartu katalog masih banyak digunakan pada berbagai jenis perpustakaan di Indonesia hingga saat ini. Keuntungan katalog berbentuk kartu ialah bersifat praktis, sehingga setiap kali penambahan buku baru di perpustakaan tidak akan menimbulkan masalah, karena entri baru dapat disisipkan pada jajaran kartu yang ada. Penggunaan katalog kartu tidak dipengaruhi factor luar, misalnya terputusnya aliran listrik, dan kemungkinan rusak sangat kecil terkecuali jika perpustakaan terbakar atau tertimpa bencana lainnya. Kelemahannya adalah satu laci katalog hanya menyimpan satu jenis entri saja, sehingga pemustaka sering harus antri menggunakannya, terutama bila melakukan penelusuran melalui entri yang sama. Sulit menggunakannya jika berada pada jumlah yang besar, karena harus memilah-milah jajaran kartu sesuai urutan indeksnya. Kelemahan lainnya ialah sulit dilakukan penggandaan terutama bagi perpustakaan yang mengetik katalog kartu dengan manual.
Bentuk fisik katalog perpustakaan lainnya adalah katalog berbentuk mikro. Katalog mikro semakin terkenal sejalan dengan pengembangan komputer-output microform (COM). COM dibuat pada salah satu bentuk microfilm atau microfishe. Katalog dalam bentuk mikro ini relative lebih murah jika dibandingkan dengan katalog dalam bentuk buku, dan terbukti bahwa biaya pemeliharaannya lebih murah daripada katalog kartu. Bentuknya ringkas dan mudah menyimpannya. Namun disisi lain, banyak pelanggan menemukan versi microfiche yang tidak menyenangkan digunakan (Taylor, 1992 dalam Hasugian, 2009).
Katalog komputer terpasang (online komputer catalog) sering disebut online public access catalogue (OPAC), adalah bentuk katalog terbaru yang telah digunakan padaa sejumlah perpustakaan tertentu. OPAC cepat menjadi pilihan katalog yang digunakan di berbagai jenis perpustakaan. Dari berbagai bentuk fisik katalog yang telah digunakan di perpustakaan, ternyata OPAC dianggap paling luwes dan paling mutakhir.
Dengan OPAC akan memberikan kemudahan bagi pemustaka untuk menemukan informasi yang diinginkan. Kemudahan ini antara lain dalam waktu yang relative singkat seseorang akan memperoleh informasi dalam jumlah besar, dapat mengakses dengan pendekatan melalui berbagai titik akses antara lain melalui judul, pengarang, subjek, nomor klasifikasi, dan atau dengan semua kata kunci tertentu.
5. Online Public Access Catalogue
Istilah baku untuk online public access catalogue (OPAC) dalam bahasa Indonesia, hingga saat ini belum terumuskan dengan pasti. Ada perpustakaan yang menyebutnya dengan istilah katalog online atau katalog terpasang, dan ada juga yang tetap menyebutnya dengan OPAC. Namun sering orang lebih senang menggunakan dengan sebutan OPAC terutama di kalangan para pustakawan.
Corbin (1985) menyebutnya dengan online public access catalogue, yaitu suatu katalog yang berisikan cantuman bibliografi dari koleksi satu atau beberapa perpustakaan, disimpan pada magnetic disc atau media rekam lainnya, dan dibuat tersedia secara online kepada pengguna. Katalog itu dapat ditelusur secara online melalui titik akses yang ditentukan. Pendapat ini menekankan pengertian OPAC dari segi penyimpanan . dan penelusuran secara online. Data katalog perpustakaan tersimpan pada server komputer dalam kapasitas/kemampuan daya tampung yang sangat besar dan daya akses yang tinggi, sehingga kecepatan temu baik informasi dapat dilakukan dengan cepat. Penelusuran secara online artinya pemustaka dapat menelusur melalui komputer tidak hanya terbatas di ruang perpustakaan saja. Pemustaka dapat menelusur informasi dimana saja mereka berada, terutama bagi perpustakaan yang telah membangun jaringan internet, maka para pemustaka dapat mencari informasi kapan saja dan di mana saja yang tidak dibatasi oleh waktu dan tempat.
Pendapat lain menyatakan bahwa OPAC adalah sistem katalog terpasang yang dapat diakses secara umum, dan dapat dipakai pemustaka untuk menelusur pangkalan data katalog, untuk memastikan apakah perpustakaan menyimpan karya tertentu, untuk mendapatkan informasi tentang lokasinya, dan jika sistem katalog dihubungkan dengan sistem sirkulasi, maka pemustaka dapat mengetahui status keberadaan bahan pustaka, apakah bahan pustaka yang dicari berstatus ditempat atau dalam status dipinjam. OPAC juga dapat memberikan informasi tentang jumlah ketersediaan jumlah eksemplar pada setiap judul bahan pustaka. Melalui OPAC pemustaka juga dapat mengetahui kapan buku yang dipinjam harus kembali, jumlah denda, dan sejarah peminjaman juga dapat diketahui lewat OPAC. Pemesanan buku juga dapat dilakukan lewat OPAC, terutama buku-buku yang tingkat sirkulasinya sangat tinggi. Dapat diketahui pula siapa pinjam apa dan kapan buku itu dikembalikan. Pemustaka juga dapat mengetahui jenis-jenis pustaka, apakah koleksi itu berjenis referens atau sirkulasi. OPAC juga dapat digunakan sebagai alat untuk pengaman, terutama OPAC yang telah terintegrasi dengan Sistem Informasi Akademik, maka OPAC dapat dipakai untuk mencegah pemustaka berbuat negative. Pemustaka yang masih mempunyai tanggungan dengan perpustakaan (buku belum dikembalikan atau denda yang belum dibayar), maka mereka tidak dapat meminjam, tidak dapat melakukan bimbingan akademik, tidak dapat memperoleh bebas pustaka, pengisian kartu studi, dan sebagainya. Perpustakaan yang telah membangun jaringan dengan perpustakaan lain, maka dengan OPAC pemustaka dapat mengetahui keberadaan dimana sebuah pustaka itu berada.
Berdasarkan uraian di atas dapat dinyatakan bahwa OPAC adalah suatu sistem temu balik informasi berbasis komputer, dimana pemustaka dapat memperoleh informasi judul buku beserta jumlah eksemplarnya, status keberadaan koleksi apakah dalam pinjaman atau berada di tempat, kapan pustaka akan kembali dan siapa peminjamnya, sejarah peminjaman seseorang, lokasi penyimpanan pustaka juga dapat diketahui lewat OPAC, pesan peminjaman dan sekaligus berfungsi sebagai alat pengaman, dan pemustaka dapat melakukan akses dari mana saja dan kapan saja mereka membutuhkan.
6. OPAC dan Format MARC
Harrod (1990) menyatakan bahwa OPAC adalah sistem katalog terautomasi. Katalog itu disimpan dalam bentuk yang terbaca mesin (machine readabel), dapat diakses secara online oleh pengguna perpustakaan melalui terminal, dan menggunakan perangkat lunak yang mudah dioperasikan. Pendapat ini mengindikasikan bahwa OPAC dibuat dengan menggunakan format MARC (Machine Readable Catalogue), yitu berupa format katalog dimana data bibliografi disimpan atau dimasukkan ke dalam tengara (tag) yang telah ditentukan (Sulistyo-Basuki, 1991). Penyimpanan itu berdampak terhadap proses temu balik dan pertukaran data bibliografis.
Dampak utama automasi terhadap katalog perpustakaan ialah memberi fasilitas penelusuran yang sangat cepat, dan akses yang efektif kepada koleksi perpustakaan, terutama bila pengarang, judul atau subjek dari bahan itu diketahui oleh penelusur (Larson, 1996). Salah satu keuntungan dari automasi perpustakaan untuk kegiatan pengatalogan adalah bahwa sejumlah perpustakaan dimungkinkan dapat saling bertukar data bibliografis. Agar pertukaran itu dapat berlangsung dengan baik, dituntut adanya keseragaman format cantuman. Untuk itu telah dikembangkan suatu format yang diberi nama machine readable catalogue disingkat MARC.
Format cantuman MARC dirancang bangun oleh Library of Congress bersama-sama British Library dengan tujuan mengembangkan cantuman bibliografis dalam bentuk yang dapat dibaca oleh mesin untuk memudahkan reformat dalam berbagai keperluan (Sulistyo-Basuki, 1991).
Dari uraian di atas dapat disimpulkan bahwa dengan MARC akan memberikan kemudahan dalam membangun kerja sama antar perpustakaan, dengan cara saling bertukar data bibliografis. Dengan kode (tag) tertentu maka kode-kode tersebut akan dibaca oleh mesin, sehingga dengan kode (tag) tersebut akan terbentuk format cantuman yang seragam.
Format MARC terdiri dari dua bagian yaitu bagian pertama adalah bagian yang memberikan informasi tentang deskripsi data bibliografis, dan bagian kedua adalah bagian yang menyimpan data bibliografis tersebut. Data disimpan pada ruas data, dan setiap ruas diawali dengan tag atau tengara yang terdiri dari tiga angka dengan interval 000 – 999 (Rowley, 1992). Berikut contoh format INDOMARC yang diadaptasi untuk pembuatan pangkalan data katalog di sejumlah perpustakaan tertentu.
Tabel 1: Contoh format INDOMARC
|
020 |
ISBN |
|
035 |
No. Kendali Setempat |
|
041 |
Kode Bahasa |
|
080 |
No. Panggil UDC |
|
082 |
No. Panggil DDC |
|
099 |
No. Panggil Setempat |
|
100 |
Entri Tama Nama Orang |
|
110 |
Entri Utanama Nama Badan Korporasi |
|
111 |
Entri Utama Nama Pertemuan |
|
245 |
Judul |
|
250 |
Edisi |
|
260 |
Penerbit dan Distribusi |
|
300 |
Deskripsi Fisik |
|
440 |
Seri |
|
500 |
Catatan Umum |
|
650 |
Entri Tambahan Subyek |
|
695 |
Kata Kunci |
|
700 |
Entri Tambahan Nama Orang |
|
710 |
Entri Tambahan Badan Korporasi |
|
711 |
Entri Tambahan Nama Pertemuan |
|
850 |
Badan Pemilik |
|
985 |
Jumlah Eksemplar |
|
999 |
Nomor Identitas |
Sumber : Saleh, 1999
Salah satu tujuan penggunaan format MARC pada kegiatan pengatalogan yang terautomasi adalah untuk membangun pangkalan data bibliografi koleksi, ialah untuk menghasilkan katalog terpasang OPAC, yang dapat diakses pemustaka dari terminal computer yang tersedia. Dengan demikian OPAC adalah bentuk katalog terpasang yang dirancang bangun dengan menggunakan format MARC. Pada tahun 1960-an MARC.
7. Keunggulan OPAC dari Katalog Kartu atau Katalog Manual
Murphy (1995) menyatakan bahwa OPAC adalah katalog yang paling cocok saat ini digunakan di perpustakaan. OPAC jauh melebihi katalog kartu dan katalog lainnya yang digantinya. Katalog kartu memiliki sejumlah keterbatasan disbanding dengan OPAC. Sekalipun fungsi dasarnya sama yaitu sebagai sarana temu balik informasi di perpustakaan, namun diantara katalog kartu dan OPAC terdapat perebedaan, antara lain:
Tabel 2: Keunggulan OPAC dari Katalog Kartu atau Kartu Manual Lainnya
|
OPAC |
Katalog Kartu atau Kartu Manual Lainnya |
|
1. Cantuman Bibliografi dapat ditelusur dalam berbagai cara dan dapat ditampilkan pada berbagai bentuk format tampilan. |
1. Cantuman Bibliografi hanya dapat ditelusur dalam satu cara dan hanya tampil dalam format yang sama. |
|
2. Interaktif (komunikasi computer dengan pemustaka) dalam suatu mode atau cara yang bersifat dialog. |
2. Bersifat pasif/statis. |
|
3. Dapat memberi reaksi dan merespon pemustaka dalam suatu cara yang cerdas. |
3. Pemustaka yang harus bergerak aktif |
|
4. Dapat digunakan untuk menunjukkan pilihan penelusuran yang tersedia, mengoreksi pengoperasian yang salah. |
4. Pendekatan alternative ini tidak dapat dilakukan melalui katalog kartu. |
|
5. Menunjukkan alternative dokumen yang cocok dengan criteria penelusuran dan menuntun pemustaka selama melakukan penelusuran. |
5. Pendekatan alternative ini tidak dapat dilakukan melalui katalog kartu. |
|
6. Mampu menyediakan bantuan pemustaka dalam berbagai cara dan tingkatan, yang langsung bisa dibaca pengguna pada system, terdiri dari: bantuan temu balik (retrieval aids), bantuan bahasa (linguistic aids), bantuan menjelajah (navigational aids), dan bantuan arti kata (semantic aids). |
6. Katalog Kartu tidak mampu memberikan fasilitas seperti yand ada pada OPAC. |
|
7. Dengan OPAC, umumnya pengguna merasa: menyenangkan, menghemat waktu, menyediakan layanan baru, menyediakan cirri khas baru yang baru, (Markey, 1993). |
|
|
8. Penelusuran dapat dilakukan berdasarkan : kata kunci ke semua ruas, menggunakan operator Boolean, dan biasanya menawarkan atau menyediakan akses yang luas kepada seluruh cantuman bibliografi. Sistematis dan bervariasi. |
8. Penelusuran dapat dilakukan berdasarkan : subjek, judul, atau pengarang saja. |
|
9. Bentuk dan isi tampilan bibliografi dimungkinkan berada pada format yang fleksibel, dengan kemungkinan tampilan informasi bibliografi dalam berbagai variasi dan pada level yang berbeda. |
9. Bentuk dan isi tampilan bibliografi selalu berada pada format yang sama. |
|
10. Tingkat Deskripsi bibliografi pada OPAC biasanya luwes dan bisa didesain sesuai dengan kebutuhan pengguna. |
10. Sedangkan bila menggunakan katalog kartu, hal itu tidak dapat dilakukan. |
|
11. Dapat diakses melalui terminal pada tempat yang berbeda dari dalam atau luar gedung perpustakaan, melalui local area networks (LAN) dan wide area networks (WAN). |
11. Sedangkan bila menggunakan katalog kartu atau kartu manual lainnya, hal itu tidak dapat dilakukan. |
|
12. Pemustaka yang berbeda, yang berada di dalam atau di luar gedung perpustakaan dimungkinkan menggunakan system OPAC secara bersama, sekalipun menelusur cantuman yang sama pada waktu yang bersamaan. |
12. Sedangkan bila menggunakan katalog kartu, hal itu tidak dapat dilakukan. |
8. Masih perlukah Katalog Perpustakaan?
Sebelum menjawab pertanyaan di atas, berikut akan disajikan tulisan Karen Coyle berjudul The Library Catalog in a 2.0 World dari Preprint Published in Journal of Academic Librarianship, v. 33. n. 2, (http://www.kcoyle.net) yang terjemahan bebas selengkapnya sebagai berikut:
Dalam kolom I sebelumnya telah saya sajikan beberapa pandangan melewati masa depan perpustakaan dan katalog perpustakaan. Menulis di ambang revolusi komputer, kebanyakan dari mereka benar meramalkan masa depan suatu perpustakaan dan katalog yang dapat diakses pengguna dari kantor atau rumah. Beberapa bahkan memprediksi pada akhirnya secara fisik perpustakaan akan mengalami pembubaran. Dokumen dan semua layanan akan beralih menjadi perpustakaan digital. Tapi tak satu pun dari mereka membayangkan munculnya informasi lingkungan hidup sepenuhnya di luar perpustakaan: World Wide Web. Pengguna kita telah mengalihkan perhatian mereka dari perpustakaan untuk sumber-sumber informasi lain. Pertanyaannya sekarang bukanlah bagaimana kita membuat pengguna ke perpustakaan, tapi bagaimana kita bisa mengambil perpustakaan untuk disajikan kepada pengguna. Jawabannya akan selalu melibatkan transformasi katalog perpustakaan.
Dalam era perpustakaan dengan dinding-dinding, perpustakaan dapat diakses pengguna informasi alam semesta itu dibatasi oleh dinding-dinding, dan dengan katalog pengguna dapat masuk ke wilayah yang dapat diakses. Saat ini perpustakaan tanpa dinding menyediakan akses ke jaringan komputer untuk berbagai sumber daya, yang sebagian besar tidak terwakili dalam katalog perpustakaan. Ada artikel jurnal, teks lengkap buku-buku referensi, kelembagaan repositori, arsip digital, dan bahan-bahan kurikulum. Bahan-bahan yang tersedia melalui perpustakaan umumnya bukan bagian dari sumber-sumber informasi akses terbuka bahwa pengguna dapat menemukan melalui mesin pencarian Web. Namun sumber daya akses terbuka yang juga merupakan bagian berharga dari informasi pengguna lingkungan, dan tidak boleh dilihat, baik oleh pustakawan atau pengguna, sebagai pesaing untuk sumber perpustakaan. Tantangan hari ini adalah untuk menyajikan semua ini sebagai suatu kesatuan yang utuh, dan akan membantu pengguna membuat pilihan antara berbagai sesaji.
Diskusi
“… Kita memiliki berbagai bentuk katalog yang tidak terhubung ke lingkungan populer atau alur kerja sehingga pengguna tidak dapat menemukan.” 1
Di perpustakaan secara profesional, menuntut blog-o-sphere berlangsung diskusi untuk membahas tentang masa depan katalog, dari katalogisasi, dan perpustakaan itu sendiri. Pada kenyataannya, kita tidak dapat membahas tiga topik ini secara terpisah; sebagai perubahan perpustakaan, katalog dapat berubah; dan sebagai perubahan maka katalog dan katalogisasi harus berubah untuk memenuhi kebutuhan.
Diskusi tentang mengubah katalog2 3 cenderung berfokus pada penciptaan layanan pengguna baru, kadang-kadang berlapis-lapis di atas saat ini sistem perpustakaan dan katalog data, kadang-kadang dalam hal model baru untuk pelayanan perpustakaan kepada pengguna. Ada juga diskusi tentang perubahan katalogisasi, khususnya karya Bersama Komite Pengarah Revisi AACR dan bekerja pada Sumber Daya Deskripsi dan Access4, yang dianggap penerus AACR2 peraturan katalogisasi. Pertanyaan yang lebih luas untuk mengubah perpustakaan tidak muncul, dan sering kali dalam konteks menyesuaikan diri dengan model-model baru komunikasi ilmiah5 6.
2.0
Dalam dunia yang terus-menerus dan cepat berubah, pernyataan bahwa kita sedang mendekati sesuatu yang disebut “Web dua titik-oh” adalah pernyataan yang kuat bahwa perubahan ini akan sangat besar. Bukan berarti akan ada momen yang sebenarnya di mana akan menjadi 1.9 Web Web 2.0, karena ini bukan direncanakan atau bahkan perubahan yang terkoordinasi. Istilah “2.0″ hanyalah sebuah singkatan untuk diketahui, tetapi dikehendaki pindah ke sesuatu yang baru. Perubahan itu relatif evolusioner dan bertahap dalam dunia di mana hampir merupakan pekerjaan penuh-waktu untuk terus mengikuti perkembangan harian baru. Tidak ada satu definisi dari Web 2.0, meskipun para ahli tertentu dapat menggambarkan karakteristiknya. Tim O’Reilly, pendiri penerbit terkemuka untuk judul komputer dan jaringan, memberikan ini sebagai sebagian dari unsur-unsur kunci Web 2.0 aplikasi: itu terjadi di Web, yang merupakan layanan, bukan produk; itu tidak terbatas pada satu produk perangkat lunak atau sebuah mesin tunggal, melainkan terbuka dan berbagi; pengguna dalam kelompok dan interaksi sosial adalah bagian dari organisasi. Users menyediakan konten dan nilai tambah.7
Karena “2.0″ telah menjadi kata “modern,” pustakawan berbicara tentang “Perpustakaan 2.0.” Tidak ada kesepakatan tentang apa 2.0 berarti di lingkungan perpustakaan,8 dan mengingat bahwa perpustakaan telah ada selama berabad-abad dibandingkan dengan kurang dari dua dekade web, itu sangat mungkin bahwa kita harus berbicara tentang Perpustakaan 7.0 atau 12.0. Ada satu sisi, bagaimanapun, di mana penggunaan 2.0 masuk akal, dan itu adalah bahwa pada saat ini dalam waktu layanan perpustakaan sangat banyak saling bergantung dengan World Wide Web, dan pengguna perpustakaan, nyaris menurut definisi, Web pengguna.
Ada dua topik di Perpustakaan 2.0 diskusi yang saya anggap paling menarik. Yang pertama adalah bahwa katalog perpustakaan, dalam arti daftar temuan perpustakaan kepemilikan, tidak lagi merupakan layanan utama perpustakaan bagi pengguna. Kedua adalah bahwa filsafat 2.0 menekankan aspek-aspek sosial dari informasi seperti resensi, rekomendasi, dan penandaan.
Katalog dalam Dunia 2.0
Katalog perpustakaan 1.0 sangat penting sebagai alat. Ini dikembangkan sebagai indeks yang terorganisasi ke dalam item fisik koleksi perpustakaan dalam abad ke-19. Masing-masing entri katalog mewakili sesuatu yang abstrak di rak perpustakaan. Ini adalah contoh yang sangat baik sebagai meta data karena representasi bentuk-bentuk katalog perpustakaan pada tingkat abstraksi yang nyata. Hal ini sangat berguna ketika hal yang sebenarnya adalah sebuah buku berada di rak yang jauh di banyak lantai, atau di perpustakaan yang berbeda tempat.
Konsep katalog sebagai satu-ke-satu representasi dari kepemilikan perpustakaan disertai dengan asumsi bahwa pengguna mengakses katalog untuk menemukan sesuatu yang memiliki perpustakaan. Jika pengguna tidak mencari item yang dikenal ( “apakah perpustakaan saya punya buku ini?”), Dengan query dapat dinyatakan sebagai: “Apa yang bisa saya dapatkan di perpustakaan ini tentang topik ini?” Ini adalah permintaan yang berbeda untuk: “Apa ada informasi tentang topik ini?” Itu pandangan yang lebih luas lebih merupakan eksplorasi. Dempsey9 mengacu pada hal ini sebagai perbedaan antara penemuan (permintaan informasi) dan lokasi (di mana sumber daya dapat ditemukan). Dalam dunia yang berorientasi buku, ini adalah perbedaan antara daftar pustaka (studi hangat tidak terbatas pada lokasi) dan kepemilikan dari perpustakaan tertentu. Katalog perpustakaan adalah yang terakhir; dicetak bibliografi dan indeks adalah mantan. Sebenarnya, laporan OCLC persepsi pengguna perpustakaan menunjukkan bahwa hanya satu persen dari pengguna memulai pencarian informasi mereka di perpustakaan dengan menggunakan katalog. Pengguna datang menggunakan katalog perpustakaan ketika berusaha untuk mencari sesuatu yang dia mengharapkan bahwa mungkin perpustakaan ada sesuatu yang dicari. Karena laporan OCLC yang sama menunjukkan bahwa sebagian besar pengguna menganggap perpustakaan sebagai sumber informasi terutama memiliki buku, hal ini memberikan Anda gagasan tentang ketika pengguna akan memilih untuk berpaling ke katalog perpustakaan.
Lingkungan informasi terdistribusi yang berbasis pada sumber daya elektronik jauh lebih sedikit daripada hard copy dibatasi geografis dunia. Pengalaman pengguna dengan penggunaan alat-alat penemuan yang merupakan bagian dari lingkungan elektronik adalah bahwa pengguna “memperoleh” kepuasan dengan fungsi dan pencarian yang sama. Pengalaman umum lainnya adalah bahwa pencarian yang tidak terbatas pada satu lembaga atau lokasi tetapi bertentangan dengan kumpulan sumber-sumber informasi. Hal ini berlaku tidak hanya ketika menggunakan mesin pencari web umum, tetapi bahkan di situs bermerek. Ketika pengguna mencari Amazon untuk sebuah buku, Amazon membantu pengguna membeli buku dari sejumlah penjual buku yang berbeda. Dalam jaringan “2.0″ dunia, prinsip pengorganisasian adalah pelayanan, bukan lembaga atau lokasi geografis.
Paling 2.0 yang saat ini boleh dikatakan merupakan teknologi perpustakaan terbaru dengan pemanfaatan OpenURL. OpenURL telah menciptakan link penting dari perpustakaan kepada sumber daya dilisensikan ke pengguna perpustakaan. Di samping layanan OpenURL dibangun ke database berlisensi, browser plugins10 memfasilitasi hubungan antara situs-situs Web yang terbuka, seperti Google Scholar, dan sumber daya dilisensikan perpustakaan. Tanpa pernah sadar memasuki katalog perpustakaan, pengguna akan menerima layanan yang diberikan oleh perpustakaan. Ini adalah contoh yang sangat baik membawa perpustakaan ke pengguna. Ada database yang merupakan dasar dari perpustakaan OpenURL layanan yang dapat memecahkan masalah. Database ini mengidentifikasi sumber daya yang dikelola oleh perpustakaan dan layanan yang berkaitan dengan sumber daya tersebut. Dalam semua indera database ini adalah semacam katalog, meskipun tidak akan pernah dapat dicari secara langsung oleh pengguna perpustakaan, dan bahkan tidak punya banyak dari apa yang kita sebut informasi bibliografi. Database yang dapat memecahkan masalah (resolver) tidak akan menggantikan katalog perpustakaan tradisional, tetapi bukti bahwa model-model baru untuk katalog mungkin diperlukan untuk mengintegrasikan dengan jenis layanan baru. Model munculnya layanan berlapis adalah satu dalam beberapa katalog yang ada dalam suatu sistem perpustakaan yang besar dengan berbagai resources.11
Pengguna 2.0
Konsep 2.0 ini bukan hanya tentang pencarian. Titik terakhir di atas dalam Tim O’Reilly’s definisi dari Web 2.0 adalah bahwa pengguna berpartisipasi dan menambahkan konten dan nilai. Dekade pertama milenium ini mungkin akan dikenal karena pertumbuhan kegiatan sosial elektronik yang canggih. Pengguna sudah terbiasa untuk membuat konten di web, apakah itu menulis review sebuah buku di toko buku online atau menciptakan identitas bagi diri mereka sendiri di My Space. Mereka juga terbiasa untuk memberi masukan dengan mengirim komentar ke blog atau menambahkan ide-ide mereka tentang suatu topik untuk Wikipedia.
Pengguna sekarang ini memiliki harapan bahwa mereka akan menemukan sebuah komunitas di tujuan elektronik mereka. Mereka juga berharap untuk berinteraksi dengan sumber-sumber informasi mereka, bukan untuk mengkonsumsi secara pasif. Ini menciptakan sesuatu dari dilema bagi perpustakaan. Katalog perpustakaan diciptakan oleh para profesional dengan menggunakan seperangkat aturan yang bahkan beberapa di dunia perpustakaan bisa mengatakan mereka telah benar-benar menguasai. Gagasan bahwa pengguna akan diizinkan untuk memodifikasi katalog adalah jauh dari mentalitas dari peraturan katalogisasi mungkin dapat Anda peroleh. OCLC adalah bereksperimen dengan beberapa input pengguna dengan memungkinkan pengguna untuk menambahkan ulasan untuk Buka WorldCat. Dasar dari katalog dan katalogisasi tetap sama, dan tinjauan yang tidak mempengaruhi penelurusan. Kebanyakan katalog perpustakaan online un-sosial, bahkan tidak memungkinkan tulisan elektronik setara dengan komentar di belakang kartu katalog.
Pemakai juga merasa nyaman berbagi sumber daya informasi mereka dan menggabungkan mereka dengan para pengguna lain. Pada situs bookmark sosial 12, pengguna berbagi bookmark dan tag yang mereka telah diberikan kepada mereka. LibraryThing,13 adalah sebuah situs untuk berbagi dan membandingkan buku pribadi bibliografi. Pada saat ini dan situs sosial lainnya, pengguna mendapatkan umpan balik dari pengguna lain yang membantu mereka memahami dan memperluas tampilan informasi mereka.
Pengguna juga mengharapkan sumber informasi mereka untuk berinteraksi dengan satu sama lain. Plugin browser yang OpenURL tersebut di atas, memungkinkan pengguna untuk bergerak dengan mulus dari kutipan di Web untuk sebuah salinan dari artikel yang dikutip tidak tersedia pada Web yang terbuka. Plugin lainnya membantu pengguna membuat bibliografi dari bibliografi informasi di layar, termasuk perpustakaan catalogs.14 layar informasi bibliografi ini kemudian dapat ditambahkan ke dokumen bahwa pengguna menulis.
Hasilnya dari hal ini adalah bahwa tidak ada satu tujuan untuk pengguna yang terlibat dalam pencarian informasi atau dalam beberapa informasi lainnya yang berhubungan dengan aktivitas. Sebuah survei yang dilakukan oleh OCLC pada persepsi pengguna perpustakaan menunjukkan bahwa sebagian besar dari mereka yang diwawancarai menggunakan mesin pencari untuk memulai pencarian informasi (84 persen). Hanya satu persen informasi memulai pencarian di situs Web perpustakaan. (hal. 6-3) Yang tidak berarti bahwa mereka tidak tertarik pada layanan perpustakaan, tetapi mereka mungkin tidak menemukan layanan tersebut jika perpustakaan tidak menemukan cara untuk pergi ke pengguna, daripada menunggu pengguna untuk datang ke perpustakaan.
9. Kesimpulan
Atas dasar uraian tersebut di atas dapat disimpulkan bahwa, dengan segala keterbatasan dan keunggulan masing-masing maka katalog perpustakaan sampai saat ini dan sampai kapanpun masih sangat dibutuhkan, dengan alasan:
- Bagi para pengelola perpustakaan (pustakawan) tidak mungkin meninggalkan katalog perpustakaan, karena “ruh” system temu kembali informasi berada pada katalog perpustakaan. Dengan kata lain katalog perpustakaan mengandung dasar falsafah bagi pustakawan, sehingga pustakawan harus mengetahui akan falsafah tersebut.
- Keduanya (katalog kartu atau katalog manual lainnya dan OPAC) memiliki fungsi dasar yang sama, yaitu sebagai sarana temu balik informasi.
- Dengan katalog, perpustakaan dapat mengkomunikasian koleksinya kepada pemustaka, dan pemustaka akan memperoleh informasi yang dibutuhkan melalui katalog perpustakaan.
- Karena daya ingat (memori) manusia sangat terbatas dan tidak mungkin akan mampu untuk mengingat/menghafal semua dokumen (informasi) yang dimiliki perpustakaan maka perlu adanya alat yang dapat menyimpan semua dokumen (informasi) dalam bentuk katalog perpustakaan walaupun dalam bentuk yang berbeda.
10. Daftar Pustaka
Hasugian, Jonner. 2009. Katalog Perpustakaan: dari Katalog Manual Sampai Katalog Online (OPAC). Medan: USU Digital Library.
Saleh, Abdul Rahman dkk. 1996. CDS/ISIS: Panduan Pengelolaan Sistem Manajemen Basis Data untuk Perpustakaan dan Unit Informasi. Bogor: Saraswati Utama.
Sulistyo-Basuki. 1991. Pengantar Ilmu Perpustakaan. Jakarta: Gramedia Pustaka Utama.
Bagi Takmir Masjid Ulil Albab (MUA) Kampus UII, momentum Tahun Baru 1433 Hijriah dioptimalkan untuk lebih mempererat tali persaudaraan. Tali persaudaraan ini diikat dalam ukhwah Islamiyah (persatuan Islam) tanpa mengenal usia mulai dari anak – anak hingga usia senja. Khusus bagi usia belia, Takmir MUA UII menyelenggarakan Tabligh Akbar Muharram ‘Temu Anak Sholih se-Jogja’ bersama Ust. Hardiman, S.Ag, yang dikenal dengan panggilan ‘Kak Batman’.